Mojokerto - Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kemitraan yang berkelanjutan, telah dilaksanakan kegiatan Temu Tani dan Kemitraan FEP (Farmer Engagement Program) PT Padi Indonesia Maju (PIM) bersama penelitian mahasiswa IPB, di Dusun Bulu, Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (11/02/2026).

Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta dihadiri Pasiter Kodim 0815/Mojokerto Kapten Inf Budiyono, Danramil 0815/07 Jetis Kapten Cba Kurniawan Junaedi beserta Babinsa setempat, Koordinator Rice Mill Jawa Timur, Sudarsono, Head National FEP Indonesia, Andi Bakhtiar, lima mahasiswa IPB, PPL Kecamatan Jetis, serta anggota Gapoktan Desa Sawo.
Kegiatan diawali sambutan Ketua Gapoktan Iwan yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya temu tani sebagai wadah silaturahmi dan diskusi strategis antara petani, mitra perusahaan, akademisi, dan Kodim 0815/Mojokerto. Ia berharap kemitraan yang terjalin mampu memberikan kepastian pasar serta solusi atas kendala budidaya padi di lapangan.
Dalam sambutannya, Pasiter Kodim 0815/Mojokerto Kapten Inf Budiyono menegaskan bahwa TNI-AD melalui Kodim 0815 sebagai Komando Kewilayahan (Kowil) memiliki peran aktif dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. "Kodim 0815/Mojokerto siap mendampingi dan bersinergi dengan petani, pemerintah daerah, serta pihak swasta dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional, sehingga kolaborasi seperti ini harus terus diperkuat", ujarnya.
Sementara itu, Head National FEP Indonesia Andi Bakhtiar menjelaskan program FEP dirancang untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan. "Kami hadir bukan hanya sebagai offtaker hasil panen, tetapi sebagai mitra yang mendampingi sejak proses budidaya. Petani mendapatkan pendampingan teknis, edukasi pengendalian hama dan penyakit, hingga kepastian penyerapan hasil panen sesuai standar kualitas. Tujuan kami adalah meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani", jelasnya.
Ketua Gapoktan Perdamaian Desa Sawo, Iwan, dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan harapan adanya pendampingan teknis yang lebih intensif dari PPL maupun mitra perusahaan agar hasil panen dapat melimpah tanpa terkendala persoalan teknis di lapangan. Selain itu, ia meminta agar melalui Kodim dapat disampaikan kepada pemerintah terkait kebutuhan alat mesin pertanian, khususnya Mesin Pemanen Padi (Combine Harvester), guna mempercepat proses panen dan meminimalkan kehilangan hasil produksi.
Kegiatan ini juga diisi dengan penyampaian dan penggalian data penelitian oleh mahasiswa IPB Bogor salah satu mahasiswa, Azis, menyoroti pola kinerja agronomist dalam mendampingi petani di lapangan, dilanjutkan membahas perkembangan nilai ekonomi kelompok tani selama mengikuti program kemitraan, dan mengulas rantai kemitraan poktan dari hulu hingga hilir.
Tidak hanya itu, para mahasiswa IPB juga meneliti dampak kemitraan terhadap nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan masyarakat, serta mengkaji pengaruh risiko usaha tani dalam sistem kemitraan yang dijalankan. Diskusi berlangsung interaktif dengan tanya jawab seputar penyakit tanaman padi, mekanisme penjualan hasil panen, serta skema kemitraan antara petani dan PT PIM.
Temu tani ini menjadi wujud sinergi nyata antara petani, dunia usaha, akademisi, dan TNI dalam mendukung pertanian yang maju, mandiri, dan modern di Kabupaten Mojokerto.
